Sabtu, 03 Oktober 2015

BUDIDAYA TANAMAN JAGUNG MANIS
( Zea Mays L. Saccharata )

Proposal
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah
Budidaya Tanaman Pangan Utama

Oleh Kelompok 10 :
Ayu Rosmiati                                       1137060016
Desty Novidayantie M                         1137060022
Hafidh Mubarok Kusuma                                1137060031
Ridwan Hambali                                              1127060069
Agroteknologi V-A


JURUSAN AGROTEKOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2015


KATA PENGANTAR


Puji  syukur  penulis  panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat  menyelesaikan  proposal Budidaya Tanaman Jagung Manis sebagai salah satu tugas Mata Kuliah Budidaya Tanaman Pangan.
Proposal ini bertujuan untuk mengajukan alat dan bahan yang akan digunakan pada saat praktikum Budidaya Tanaman Pangan dan kelompok kami terpilih untuk membudidayakan Tanaman Jagung Manis (Zea Mays L. Saccharata).
Selama  penulisan  proposal ini,  penulis  banyak mendapatkan  bantuan. Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan  proposal  ini.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan baik dalam penulisan maupun materi yang dibahas. Kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat penulis harapkan demi  penyempurnaan  makalahdi masa mendatang. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi amal dan perjuangan kita, mudah-mudahan  makalah ini dapat memberikan  manfaat bagisemuapihak.



Bandung,   September 2015

Penyusun


DAFTAR ISI





BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.             Latar Belakang

Produktivitas jagung di Indonesia masih tergolong rendah dan kurang produktif pemasokannya bila disejajarkan dengan Negara penghasil jagung internasional. Bagaimana tidak, semua itu terjadi karena salahnya pemakaian dan penggunaan procedure yang sebenarnya sudah diberlakukan oleh mekanisme pertanian modern. Penggunaan varietas yang tidak unggul menjadi penentu bagi permasalahan yang sampai saat ini menjadi kemelut bagi perkembangan jagung nasional, tidak hanya disebabkan oleh itu saja melainkan permasalahan tersebut muncul karena pemanfaatan teknologi diminoritaskan dan lebih cenderung memanfaatkan kearifan budaya local, penanaman yang tidak tepat dengan waktunya serta penggunaan dosis pupuk yang tidak disesuaikan dengan dosis pemakaian dan tepat sasaran. Selanjutnya, pendapatan yang diharapkan oleh petani adalah kebergantungan pascapanen dengan mengoptimalkan sesuai penanganannya.
Kendati demikian, masih banyak momentum proses yang perlu dilakukan agar supaya ketahanan pangan terlebih jagung dapat terselesaikan dengan baik dan sesuai dengan pengharapan. Selektif dan teliti dalam mencari bibit penanaman, penyesesuain penggunaan lahan yang baik serta diolahnya dengan mekanisme pemberlakuan pertanian. Sebenarnya, keseluruhan akan permasalahan tersebut akan terselesaikan dengan sempurna dan baik apabila penyesesuaian akan banyak hal dilakukannya seperti waktu tanam yang sesuai, penyiapan benih yang berkualitas dan pemeliharaan dilakukan. Konsep teori tersebut akan berjalan apabila dilakukan dalam proses penanaman sebab lahirnya penerapan karena terjadinya suatu pembentukan konsep yang matang serta konsep tersebut sudah diuji kelayakannya dan tidak dapat diragukan lagi, lebih mudahnya dari budidaya jagung adalah apabila berkeinginan produktivitasnya meningkat tidak harus dengan lahan basah dan pemberlakuan system aerasi dan drainase yang baik terpentingnya adalah tanah tersebut bersifat gembur.
Upaya untuk menanggulangi banyak permasalahan sudah kerap dilakukan termasuk dalam rangka mendorong percepatan adopsi varietas unggul jagung, kegiatan perbenihan memegang peranan yang sangat vital. Benih yang baik akan menghasilkan tanaman yang tegak, perakaran kuat dan produksi tinggi. Salah satu permasalahan perbenihan di tingkat petani adalah harga benih yang mahal sehingga petani lebih memilih menanam jagung lokal atau turunan hibrida dari pertanaman musim sebelumnya. Permasalahan lain adalah benih tidak tersedia saat dibutuhkan.

1.2.            Tujuan

1.       Untuk mengetahui produktivitas tanaman jagung
2.       Untuk mengetahui teknik budidaya tanaman jagung yang baik

1.3.            Manfaat

1.       Mengetahui produktivitas tanaman jagung
2.       Mengetahui teknik budidaya tanaman jagung yang baik
3.       Sebagai sarana belajar dan melatih tanggung jawab










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Taksonomi Tanaman Jagung

Tanaman jagung (Zea Mays L.) merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari keluarga rumput-rumputan. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman pangan yang penting, selain gandum dan padi. Tanaman jagung berasal dari Amerika yang tersebar ke Asia dan Afrika, melalui kegiatan bisnis orang Eropa ke Amerika. Pada abad ke-16 orang portugal menyerbarluaskannya ke Asia termasuk Indonesia. Jagung oleh orang Belanda dinamakan main dan oleh orang Inggris.
 Secara umum, jagung memiliki kandungan gizi dan vitamin. Di antaranya kalori, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, dan mengandung banyak vitamin. Adapun klasifikasi tanaman jagung, yaitu :
Kingdom         : Plantae
Divisio             : Spermatophyta
Subdivisi         : Angiospermae
Kelas               : Monocotiledon
Ordo                : Poales
Famili              : Poaceae
Genus              : Zea
Spesies            : Zea mays L.
Pembuatan bedengan dilakukan setelah tanah diolah. Bedengan dilengkapi dengan saluran pembuangan air. Ukuran bedengan adalah lebar 1-1,2 meter. Panjang 3-5 meter, dan tinggi 15-20 cm antara dua bedeng, dibuat parit untuk memasukkan dan mengalirkan air ke tempat penanaman.
 Benih yang akan digunakan sebaiknya bermutu tinggi, baik mutu genetik, fisik maupun fisiologinya. Berasal dari varietas unggul (daya tumbuh besar, tidak tercampur benih lain, tidak mengandung kotoran, tidak tercemar hama dan penyakit). Benih yang demikian dapat diperoleh bila menggunakan benih bersertifikat.

2.2.Morfologi Tanman Jagung

a.       Akar.
Akar jagung tergolong akar serabu yang dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman.
b.       Batang jagung
Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin.
c.        Daun.
Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stomata pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stomata dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada selsel daun.
d.       Bunga.
Jagung memiliki bunga jantandan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol.

e.        Tongkol.
Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Buah Jagung siap panen Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya protandri.

2.3.Syarat Tumbuh Tanaman Jagung

a.       Iklim
Iklim sedang hingga daerah beriklim basah. Pada lahan tidak beririgasi, curah hujan ideal 85-200 mm/bulan dan harus merata.  Sinar matahari cukup dan tidak ternaungi Suhu 21-340C, optimum 23-270C. Perkecambahan benih memerlukan suhu ± 300C.
b.       Tanah
Tanah gembur, subur dan kaya humus. Jenis tanah: andosol, latosol, grumosol, dan tanah berpasir. Tanah grumosol memerlukan  pengolahan tanah yang baik. Tanah terbaik bertekstur lempung/liat berdebu. pH tanah  5,6 – 7,5. Aerasi dan ketersediaan air dalam kondisi baik. Kemiringan ≤ 8%, lahan miring > 8%, perlu di teras. Tinggi tempat 1.000-1800 m dpl, optimum 0-600 m dpl.








BAB III
METODE BUDIDAYA

3.1.Lokasi dan Skala Budidaya

Untuk pelaksanaan kegiatan budidaya tanaman jagung manis ini akan dilaksanakan di lahan praktikum jurusan Agroteknologi dengan luas lahan yang akan digunakan yaitu 4m2 x 4m2.

3.2.Pelaksanaan Budidaya

3.2.1.           Skema dan Luas Lahan

 











Luas lahan ditanami          = 2 x ( 400 cm x 150 cm )
                                                = 2 x 60.000 cm2
                                                = 120.000 cm2
                                                = 12 m2
Luas parit                              = P x L
                                                = 400cm x 100 cm
                                                = 40.000 cm2
                                                                        = 4 m2
Total lahan                           = lahan ditanami + paritan
                                                = 12 m2 + 4m2
                                                = 16 m2

3.2.2.           Penyiapan Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan yaitu :
Alat :
Bahan :
·         Cangkul
·         Gembor / emrat
·         Tugal
·         Patok / tali rafia
·         Roll meter

·         Benih jagung
·         Pupuk organik kompos
·         Pupuk urea
·         Pupuk KCL
·         Pupuk SP-36
·         Air
·         Lahan 4m2 x 4m2

3.2.3.           Teknik Budidaya Tanaman Jagung

1.       Penyiapan lahan
·         Pencangkulan Lahan
Tujuan pencangkulan adalah untuk menghilangkan zat beracun yang dapat membahayakan terhadap tanaman, membersihkan lahan dari gulma-gulma yang tumbuh di lahan tersebut. Selain itu agar tanah menjadi gembur dan siklus udara dalam tanah menjadi baik.
·         Pembentukan Bedengan
Pembentukan bedengan dengan ukuran lebar 150 cm, panjang 400 cm, tinggi 20 - 25cm, jarak antar bedengan 50cm.
·         Pemupukan dasar
Pemupukan dasar dilakukan untuk menggemburkan dan menambah nutrisi kedalam tanah agar tanah menjadi subur, selain itu pemupukan dasar juga dilakukan  untuk memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman. Pemupukan dasar menggunakan pupuk organik kompos sebanyak 10ton/hektar, maka kebutuhan untuk luas lahan 12 m2 yaitu 12 kg. sehingga, untuk masing-masing bedengan sebanyak 6kg.
2.       Persiapan benih
Bermutu tinggi, baik mutu genetik, fisik maupun fisiologinya. Benih berasal dari varietas unggul (daya tumbuh besar, murni, tidak mengandung kotoran, tidak tercemar hama dan penyakit). Benih yang terjamin adalah benih bersertifikat.
3.        Penanaman
jarak tanam yang digunakan adalah 80cm x 50cm dengan kedalaman lubang tanam3cm, masing-masing lubang ditanami 3 benih jagung. Benih dimasukkan kedalam lubang tanam kemudian ditutup sedikit dengan tanah. Sebelum penanaman benih terlebih dahulu direndam dengan air dimaksudkan agar proses imbibisi lebih cepat.
·         Pembuatan Lubang Tanam
Diameter dan kedalaman lubang tanam 3 cm, dengan jarak lubang tanam 80cm x 50cm. Perhitungan jumlah lubang tanam :
Luas lahan                                = ( P x L )
Lubang tanam                         = ( 400cm : 80cm ) x (150cm : 50cm )
                                        = 5 x 3
                                        = 15  lubang tanam / bedeng
Dikalkulasikan     = 16 lubang tanam / bedengan
Jml lubang tanam               = 16 x 2
                                        = 32 lubang tanam / 2 bedeng
Kebutuhan benih = Jumlah lubang tanam x Jumlah benih / lubang tanam
                                                                = 32 x 3
                                                                = 96 biji
Maka skema lubang tanamnya sebagai berikut :

=
 




4.       Pemeliharaan
a.       Penyiraman
Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab, tujuannya menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung.
b.       Penyulaman dan Penjarangan
Apabila dalam 1 lubang tumbuh 3 tanaman dan hanya dikehendaki 2 atau 1, tanaman yang tumbuh paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting yang tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain.  Benih yang tidak tumbuh atau mati perlu disulam, kegiatan ini dilakukan 7-10 hari sesudah tanam (HST). Penyulaman menggunakan benih dari jenis yang sama. Selain itu, apabila ada tanaman yang tidak dikehendaki maka bisa dilakukan penjarangan. Penjarangan ini dimaksudkan agar populasi tanaman tidak terlalu padat agar penyinaran dapat diterima tanaman secara maksimal.
c.        Pembumbunan dan penyiangan
Pembumbunan bersamaan dengan penyiangan dan pemupukan pada umur 6 minggu. Tanah di kanan dan kiri barisan jagung diurug dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman, membentuk guludan memanjang. Pembubunan juga dilakukan bersamaan penyiangan kedua.
d.       Pengendalian hama dan penyakit tanaman
Kegiatan pengendalian hama dan penyakit pada tanaman jagung dilakukan agar tanaman jagung tidak mengalami gangguan kesehatan, yang akhirnya mengganggu hasil produksinya. Pengendalian terhadap hama dan penyakit dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu:
1)       Cara mekanik, yaitu pengendalian dengan menggunakan alat atau membuang bagian tanaman yang terkena hama atau penyakit.
2)       Cara kimia, yaitu pengendalian dengan menggunakan bantuan bahan kimia seperti pestisida. Biasa menggunakan Decis 25EC untuk pengendalian Belalang Locusta migratoria, lalat bibit Atherigona sp dengan dosis sesuai dengan yang ada dikemasan. Waktu yang baik untuk menyemprot adalah pagi hari antara jam 06.00 - 09;00 atau sore hari jam 16.00 -18.00.
5.       Pemupukan
Pemupukan pertama dilakukan 2 minggu setelah tanam (MST). Pemupukan dilakukan dengan cara  membuat lingkar di sekitar   tanaman dengan jarak selebar kanopi daun (ujung daun) dan kemudian diletakan masing-masing pupuk disisi yang berbeda. kemudian ditimbun dengan tanah agar pupuknya tidak menguap dan tidak terbawa oleh air hujan, dan agar pupuk tersebut diserap oleh tanaman secara optimal. pupuk yang digunakan adalah pupuk Urea dengan dosis 300 kg/ha, SP-36 100 kg/ha dan KCL 50 kg/ha, dengan dosis waktu pemberian pupuk sebagai berikut :

No
Jenis Pupuk
Dosis
(kg/Ha)
Waktu pemberian
2 MST
(kg/ha)
6 MST
(kg/ha)
1.
Urea
300
100
200
2.
SP-36
100
100
-
3.
KCL
50
50
-
       Kebutuhan pupuk yang akan digunakan untuk luas lahan 12 m2 dengan 32 lubang tanaman :
a)       Kebutuhan Pemupukan Pertama Pada 2 Minggu Setelah Tanam (MST) Untuk 12m2  Luas Lahan Yang Ditanami, Yaitu :
No
Jenis pupuk
Dosis (kg/Ha)
Dosis/ lubang tanam (gr)
Dosis/ tanaman (gr)
Kandungan pupuk tunggal (%)
1
Urea
100
3,75
1,25
45% N
2
SP-36
100
3,75
1,25
36% P2O5
3
KCL
50
1,87
0,62
60% K2O

b)       Kebutuhan Pemupukan Kedua Pada 6 Minggu Setelah Tanam (MST) Untuk 12m2  Luas Lahan Yang Ditanami, Yaitu :
No
Jenis pupuk
Dosis (kg/Ha)
Dosis/ lubang tanam (gr)
Dosis/ tanaman (gr)
Kandungan pupuk tunggal (%)
1
Urea
200
7,5
2,5
45% N
2
SP-36
-
-
-
-
3
KCL
-
-
-
-

6.       Pemanenan
      Pemanenan dilakukan setelah tanaman memenuhi criteria panen yaitu kelobot tongkol sudah berwarna kuning atau putih kekuning-kuningan, kira-kira sudah berusia 70-75 HST. Bila kelobot tongkol dikupas akan tampak biji jagung berwarna kuning, bijinya sudah cukup keras dan mengkilap. Pemanenan dilakukan dengan cara memutar tongkol jagung.

 




BAB 1V
PENUTUP

4.1. Kesimpulan

         Budidaya jagung meliputi proses persiapan lahan, persiapan benih, penanaman, pemeliharaan, panen dan pasca panen. Budidaya jagung dilakukan di lahan praktikum agroteknologi, dengan keseluran luas lahan 16m2 dan luas lahan yang ditanami 12m2, dengan luas bedengan 4 m x 1,5 m. Persiapan lahan meliputi pengolahan tanah, pembuatan bedengan serta pemupukan dasar. Persiapan benih meniapkan benih yang akan ditanam, dialkukan perendaman terlebih dahulu sebelum ditanam. penanaman, jarak tanam 80 cm x 50 cm. maka, keseluruhan ada 32 lubang tanam denga kedalaman lubang tanam 3 cm, tiap-tiap lubang tanam diisi 3 benih jagung. Pemeliharaan, meliputi penyiraman, pemupukan, penyiangan dan pembubunan, pengendalian hama dan penyakit dan panen.














DAFTAR PUSTAKA


Al Omran et al. 2012. Management of Irrigation Water Salinity in Greenhouse Tomato Production under Calcareous Sandy Soil and Drip Irrigation. Journal Of Agricultural Science And Technology. Vol 14:939-950.
Fitter dan Hay. 1992. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Kartasapoetra, Ance Gunarsih. 1990. Klimatologi Pengaruh Iklim Terhadap Tanah dan Tanaman. Jakarta: Bumi Aksara.
Marlina V, enni.2004. Pengaruh Pemberian Dosis Kompos Azzola Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Jagung.Proposal Skripsi Progam Studi Agronomi Jurusan Budi Daya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jambi : Jambi.
Salisbury dan Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid Dua Biokimia Tumbuhan Edisi Keempat. Bandung: ITB.
Surtkanti.  2011.  Hama dan Penyakit Penting Tanaman Jagung dan Pengendaliannya.  Balai Tanaman Serelia.  Seminar Nasional Tanaman Serelia 2011. 














Lampiran 1 : Perhitungan Kebutuhan Pupuk


a.       Kebutuhan Pupuk Organik Kompos
Untuk pemupukan dasar digunakan penambahan pupuk organik kompos dengan kebutuhan 10ton/ Ha.
 x 12m2 = 12 kg
Jadi, kebutuhan pupuk organik kompos untuk luas lahan 12 m2 yaitu 12kg. untuk tiap bedengannya masing-masing sebanyak 6 kg.

b.       Kebutuhan Pupuk Buatan
1)       Pemupukan Pertama, 2 MST untuk 12m2 lahan yang ditanami, yaitu :
·         Kebutuhan Urea untuk pemupukan pertama / 12 m2 :
Dosis pemupukan urea diberikan 1/3 dari keseluruhan dosis yang di anjurkan,
Maka :  
Maka, kebutuhan per petak :
Maka, kebutuhan perlubang tanam :
120 gr/ petak : 32 lubang tanam = 3,75 gr/ lubang tanam
Maka, kebutuhan pertanaman, yaitu :
3,75 gr/ lubang tanam : 3 benih/ lubang tanam = 1,25 gr/ tanaman
Maka, kebutuhan N (45%) pertanaman, yaitu :
·         Kebutuhan SP-36 untuk pemupukan pertama / 12 m2 :
Maka, kebutuhan per petak :
Maka, kebutuhan perlubang tanam :
120 gr/ petak : 32 lubang tanam = 3,75 gr/ lubang tanam
Maka, kebutuhan pertanaman, yaitu :
3,75 gr/ lubang tanam : 3 benih/ lubang tanam = 1,25 gr/ tanaman
Maka, kebutuhan P2O5 (36%) pertanaman, yaitu :
·         Kebutuhan KCL untuk pemupukan pertama / 12 m2 :
Maka, kebutuhan per petak :
Maka, kebutuhan perlubang tanam :
60 gr/ petak : 32 lubang tanam = 1,87 gr/ lubang tanam
Maka, kebutuhan pertanaman, yaitu :
1,87 gr/ lubang tanam : 3 benih/ lubang tanam = 0,62 gr/ tanaman
Maka, kebutuhan K2O (60%)  pertanaman, yaitu :

2)       Pemupukan k-2, 6 MST untuk 12m2 lahan yang ditanami, yaitu :
·          Kebutuhan Urea untuk pemupukan kedua / 12 m2 :
Dosis pemupukan urea diberikan 2/3 dari keseluruhan dosis yang di anjurkan, Maka :
Maka, kebutuhan per petak :
Maka, kebutuhan perlubang tanam :
240 gr/ petak : 32 lubang tanam = 7,5 gr/ lubang tanam
Maka, kebutuhan pertanaman, yaitu :
7,5 gr/ lubang tanam : 3 benih/ lubang tanam = 2,5 gr/ tanaman
Maka, kebutuhan N (45%) pertanaman, yaitu :

Lampiran 2 : Kebutuhan Biaya (Modal)


No
Jenis alat dan bahan
Jumlah
Harga satuan
Jumlah harga
1
Cangkul
2 buah
Rp 37.000,-
Rp 74.000,-
2
Gembor / emrat
1 buah
Rp 32.500,-
Rp 32.000,-
3
Tugal
1 buah
Rp      -           
Rp      -
4
Patok / tali raffia
1 buah
Rp   2.000,-
Rp   2.000,-
5
Roll meter
1 buah
Rp 90.000,-
Rp 90.000,-
6
Benih jagung
1 kantong
Rp 19.000,-
Rp 19.000,-
7
Pupuk :
-          Pupuk organik
-          Urea 1
-          SP-36
-          KCL
-          Urea 2

12 kg
0,12 kg
0,12 kg
0,06 kg
0,24 kg

Rp      500,-
Rp   1.800,-
Rp   2.000,-
Rp   1.600,-
Rp   1.800,-

Rp   6.000,-
Rp      216,-
Rp      240,-
Rp       96,-
Rp      432,-
8
PHT :
-          Decis 25 EC

1 botol / 50 ml

Rp 18.000,-

Rp 18.000,-
TOTAL
Rp 241.984,-









Lampiran 3 : Kalender Kerja


No
Hari/Tanggal
Kegiatan
Keterangan
1
Senin, 14 september 2015
Persiapan lahan :
-          Pengukuran lahan
-          Pengolahan tanah 1(pembersihan gulma)

Luas lahan 4 m2 x 4 m2
2
Senin, 21 september  2015
-          Pengolahan tanah 2 (pembalikan tanah dan pembutan bedengan)
-          Pemupukan dasar (6kg/ bedengan)
Bedengan :
P = 400 cm
L= 150 cm
T= 30cm
l.parit= 50 cm
p.parit= 400cm
3
Senin, 28 september 2015
-          Persiapan benih
-          Penanaman (pengukuran jarak tanam dan pembuatan lubang tanam)
-          Penyiraman
JT = 80 cm x 50 cm, kdalaman lubang tanam 3cm
Dengan 3 benih/ lb.tanam x 32 = 96 benih
4
Senin, 5 oktober 2015
Pemeliharaan
-          PHT
-          Penyiraman
-          penyiangan
-          penjarangan
-          Penyulaman
PHT dengan menggunakan pestisida decis 25EC
5
Senin, 12 oktober 2015
-          Pemupukan  ke 1
-          Pembumbunan
-          Penyiangan
-          Penyiraman
Dosis Pemupukan pertama (Urea= 4gr, SP-36= 4gr dan KCL= 2gr) per lubang tanam
6
Senin, 19 oktober 2015
-          Penyiangan
-          Penyiraman

7
Senin, 26 oktober 2015
-          Pemupukan ke 2
-          Penyiangan
-          Penyiraman
Dosis pemupukan kedua (urea= 8gr) perlubang tanam
8
Senin, 2 november 2015
-          Penyiangan
-          Penyiraman

9
Senin, 9 november 2015
-          Penyiangan
-          Penyiraman

10
Senin, 16 november 2015

PANEN